Kisah Nyata Seorang Pangeran Yang Mengucilkan Diri Ditengah Hutan Di Delhi, India (Bag. VI)

Ini adalah kisah nyata sebagaimana yang ditulis oleh seorang jurnalis senior “ Ellen Barry ” di The New York Times dengan judul asli “ The ...

Ini adalah kisah nyata sebagaimana yang ditulis oleh seorang jurnalis senior “Ellen Barry” di The New York Times dengan judul asli “The Jungle Prince of Delhi

IKAN PAUS PUTIH

Saya mendaki tangga batu ke Malcha Mahal beberapa bulan kemudian dengan rasa ingin tahu yang dalam.

Saya telah kembali ke India selama beberapa hari, untuk melihat apa yang dapat saya temukan di antara barang miliknya.

Mengapa saya melakukan semua ini ? Saya bertanya sendiri.

"Apakah Cyrus adalah paus putih?" Demikian subjek email yang saya kirim ke editor saya.
Saya dipenuhi rasa penasaran. Ok, sangat ingin tahu mengenai bagaimana sebuah keluarga dengan kekayaan dan status menjadi terasing di hutan. Siapa mereka sebenarnya ?

Kisah-kisah seperti itu mengusik rasa penasaranku melewati batas sekedar pekerjaan. Hal serupa sudah pernah saya alami beberapa tahun sebelumnya, ketika itu saya mengumpulkan kisah kehidupan seorang wanita yang menikam anaknya di lantai dasar.

Ketika saya merasa ada kemajuan, ada perasaan yang menenangkan, seolah-olah kepingan informasi terkumpul dan menjadi semakin jernih. Terobosan kecil adalah sebuah kemajuan. Dalam tugas semacam ini bahkan membayar tagihan pun bisa terlupakan, panggilan telepon tak dijawab, semuanya dikesampingkan untuk mengikuti jejak peristiwa.

Cyrus dan keluarganya telah melalui pemisahan historikal yang luar biasa: pemisahan sebuah negara. Perasaan saya mengatakan bahwa jawabannya ada di sana, keputusan pemerintah yang mempengaruhi kehidupan setengah benua.

Tetapi apa yang membuatku berpikir bahwa aku bisa melacak mereka setelah bertahun-tahun? Katakanlah saya bisa melakukannya - apa yang bisa lebih menarik daripada cerita yang mereka ceritakan tentang diri mereka sendiri?

Inilah yang terlintas di kepala saya ketika mendaki tangga itu. Kematian Cyrus telah diliput banyak media, baik dari India sendiri maupun dari luar negeri, dan para pencari sensasi telah menjelajahi Malcha Mahal, mengambil video dengan camera telepon, berharap bisa mengambil video hantu.

Lantai ruangan depan dipenuhi kertas bekas berserakan dari lemari pakaian dan laci.
Saya membuka-buka surat, mencari akta kelahiran, sebuah paspor, atau apaun yang menghubungkan keluarga ini dengan dunia nyata.

Namun, yang saya temukan adalah kronik interaksi dengan jurnalis selama 30 tahun.Sepertinya, ini adalah bisnis keluarga. Ada lusinan permintaan dari wartawan. Saya telah menulis cukup banyak surat semacam ini dalam hidup saya untuk mengenali nada memohon mereka. Beberapa ditulis dengan bahasa formal yang rumit sementara yang lainnya bahkan menawarkan uang.

Duduk di karpet, aku tertawa terbahak-bahak. Cyrus dan keluarganya akan mengikat mereka - seperti yang dia lakukan kepada saya - dan kemudian, jika suasana hati mereka lagi buruk mereka menolak wawancara. Keluarga Oudh lah yang memiliki cerita. Mereka berada di atas angin.

Di antara kisah keluarga ini adalah artikel di The Statesman, diterbitkan pada tahun 1993, dengan judul “When History Is Based on Errors.”  Dua paragraf ini telah ditandai.

"Pernahkah Anda memperhatikan bahwa kekeliruan yang diberitakan oleh media atau orang terkemuka akan cenderung di copy ulang oleh orang yang bergelut di bidang yang sama, sampai suatu ketika kekeliruan ini akan bersaing dengan kebenaran yang sesungguhnya untuk menjadi sesuatu yang dipercaya?"

Dengan kata lain "Para penulis yang mengabadikan kesalahan-kesalahan sebenarnya tidak memiliki motif jahat: Mereka tidak punya niat untuk menggembosi, mereka hanya tidak punya waktu untuk memeriksa dan mengecek setiap fakta, sehingga mereka mengandalkan sumber yang sudah ada sebelumnya."

Ada dua hal yang benar-benar mengejutkan saya.

Yang pertama adalah setumpuk kwitansi kiriman uang tunai dalam jumlah kecil secara reguler melalui Western Union dari sebuah kota di utara industri di Inggris. Pengirim mengidentifikasi dirinya sebagai "saudara tiri."

Yang kedua adalah surat yang ditulis tangan, dikirim melalui pos pada tahun 2006. Isi suratnya penuh keluhan namun intim, keprihatinan namun juga perhatian, surat yang hanya bisa ditulis oleh kerabat.

"Saya sangat kesakitan sehingga saya bahkan tidak mampu ke toilet," penulis memulai, dan, setelah penjelasan penyakit yang panjang, dilanjutkan dengan keluhan beban memberikan bantuan keuangan  terus menerus untuk Wilayat dan anak-anaknya. Dia jelas bukan orang kaya.

"Demi Tuhan, coba selesaikan masalah keuanganmu sendiri, kalau-kalau sesuatu denganku," kata penulis kepada mereka sebagai tambahan informasi untuk transfer Western Union terbaru. "Semoga Tuhan menolong kita semua."

Surat itu ditandatangani "Shahid," dan dikirim dari alamat di Bradford, Yorkshire.


NAWAB TERAKHIR

Mari kita berhenti sejenak membahas mengenai tragedi keluarga Oudh.

Pada pertengahan abad ke-19, British East India Company mempercepat aneksasi kerajaan India. Setelah merebut Punjab dan Sindh, India menetapkan ambisinya pada Oudh, sebuah wilayah yang kira-kira seukuran Carolina Selatan.

Oudh diperintah seorang nawab atau gubernur provinsi pada waktu itu yang bernama Wajid Ali Shah, seorang seniman pemimpi yang menghabiskan waktunya mengatur hiburan mewah di harem yang ia sebut Parikhana, atau "tempat tinggal para peri." Ia mengira orang Inggris adalah sekutunya, karena paman buyutnya telah memberi mereka pinjaman besar.

Orang Inggris berpikir sebaliknya. Mereka melucuti kekuasaan nawab atas wilayahnya dengan alasan salah kelola, menyodorkan ke tangannya sebuah perjanjian yang menyatakan bahwa "wilayah Oudh mulai saat itu dan seterusnya akan berada dibawah perlindungan British East India."

Sang nawab menangis, melepaskan sorbannya dan meletakkannya di tangan utusan itu.

Segera setelah itu, ia diasingkan ke Calcutta, dan Lucknow dirundung duka.

Sejarawan Rosie Llewellyn-Jones menulis dalam biografinya tentang Wajid Ali Shah. "Orang-orang dikota itu ditinggalkan takberjiwa," tulis Zahuruddin Bilgrami saat itu.

 “Duka turun dari setiap pintu dan dinding. Tidak ada jalan, pasar, atau tempat tinggal yang tidak meratap dalam pemisahan itu. ”

Ibu nawab, dalam pengasingan, berlayar ke Inggris dalam upaya putus asa untuk membawa kasusnya kepada Ratu Victoria, sesuatu yang menjadi bahan olokan majalah Punch :

The Queen of Oude
Is disendowed
Of regions rich and juicy
Their milk and honey
I mean their money
Squeezed out by Lord Dalhousie

Oudh telah berakhir. Kerajaan yang telah berakhir meninggalkan Lucknow seperti mati.


KOTA HANTU

Saya kembali ke Lucknow, dan naik taksi ke jalan-jalan perumahan yang tersembunyi di belakang kuil agung dan istana kota tua.

Di sinilah saya bertemu dengan saksi yang bisa mengingat Cyrus dan keluarganya. Kuda menarik kereta melalui jalur sempit, dan aku bisa mendengar musik nyaring diputar di radio. Nostalgia Oudh adalah industri penginapan di sini.

Ke mana pun saya pergi, saya melihat gambar nawab terakhir, Wajid Ali Shah, ekspresinya melamun dengan satu puting susu menyembul dari bajunya.


Lalu kemudian ada keturunannya. Karena Wajid Ali Shah memiliki ratusan istri dan selir, orang-orang yang mengidentifikasikan diri sebagai keturunannya ada di mana-mana di Lucknow, berebut bagai kucing hutan atas kebenaran klaim satu sama lain.

Ketika saya bertanya tentang keluarga Cyrus, saya menemukan pengakuan instan: Ya, tiga dari mereka telah pindah ke kompleks ini selama beberapa bulan di tahun 1970-an.

Abrar Hussain, yang telah bekerja untuk Wilayat sebagai pelayan, mengatakan keluarga itu telah menimbulkan sensasi, terutama di kalangan Shiite. Orang-orang biasa tersentuh hingga meneteskan air mata ketika melihat mereka, dan beberapa di antara mereka begitu terpesona oleh begum - begitu yakin bahwa dia adalah ratu mereka yang telah kembali - sehingga mereka menolak untuk membelakanginya dan memilih berjalan mundur, karena rasa hormat.

"Bukan hanya saya - seluruh masyarakat datang untuk melihatnya, dan menjadi gila," katanya. "Orang-orang akan menangis melihatnya dalam kondisi tersebut."

Tetapi para tetua di lingkungan itu, sebagian besar keturunan anggota pengadilan nawab, mengatakan bahwa keluarga itu penipu. Sayyed Suleiman Naqvi, mantan pemecah sandi untuk Angkatan Darat India, mengatakan ia telah menyamar sebagai jurnalis untuk memeriksa kredensial Wilayat.

“Wilyat berkata, kami memiliki bukti tertulis.Dan saya berkata, kalau begitu tunjukkan! ' Dia menjawab, 'Saya hanya akan memberikan kepada orang yang berwenang.' Dia menunjukkan kepada kami beberapa barang pecah belah dan semua itu, tentu saja barang antik, ” kenang Tuan Naqvi, yang sekarang sudah berusia sekitar 70-an tahun. "Tetapi dia tidak menunjukkan kepada kami bukti dokumen apa pun."

Keluarga itu meninggalkan Lucknow dengan tiba-tiba, katanya. Sesuatu terjadi: Seorang tetua wanita mengatakan dia mengenali Wilayat dari sebelum peristiwa Pemisahan. Wanita itu berkata bahwa Wilayat adalah seorang wanita biasa pada waktu itu, istri muda seorang pegawai negeri.

Tuan Naqvi, yang menganggap dirinya seorang murid kemanusiaan, mengatakan ia percaya mereka adalah penipu, tetapi mereka tidak termotivasi oleh keserakahan.

"Menurut saya, wanita ini adalah seorang megalomaniak," katanya. "Dia seharusnya diperiksa secara psikologis."

Namun penilaiannya terhadap anak-anaknya sangat berbeda. "Mereka memercayai ibu mereka," katanya, "karena dia adalah ibu mereka."

Bersambung ke bagian ke-7

sumber: nytimes.com
Name

Article,44,Berita,5,Contact,1,Insight,7,Internasional,6,Nasional,10,News,18,Opini,5,Tips,8,Tips & Trick,3,Tutorial,3,
ltr
item
Pelitanews.co: Kisah Nyata Seorang Pangeran Yang Mengucilkan Diri Ditengah Hutan Di Delhi, India (Bag. VI)
Kisah Nyata Seorang Pangeran Yang Mengucilkan Diri Ditengah Hutan Di Delhi, India (Bag. VI)
https://1.bp.blogspot.com/-cQjsAxTmjlc/XiNeZ2U-NqI/AAAAAAAAApk/rL8rN87tDzo9_UEVJSHXIxh6LcstCX55QCLcBGAsYHQ/s640/Cyrus1.png
https://1.bp.blogspot.com/-cQjsAxTmjlc/XiNeZ2U-NqI/AAAAAAAAApk/rL8rN87tDzo9_UEVJSHXIxh6LcstCX55QCLcBGAsYHQ/s72-c/Cyrus1.png
Pelitanews.co
https://www.pelitanews.co/2020/01/kisah-nyata-seorang-pangeran-yang.html
https://www.pelitanews.co/
https://www.pelitanews.co/
https://www.pelitanews.co/2020/01/kisah-nyata-seorang-pangeran-yang.html
true
4426408432908953892
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy Table of Content