Kisah Nyata Seorang Pangeran Yang Mengucilkan Diri Ditengah Hutan di Delhi, India (Bag. I)


Ini adalah kisah nyata sebagaimana yang ditulis oleh seorang jurnalis senior “Ellen Barry” di The New York Times dengan judul asli “The Jungle Prince of Delhi”.

Selama 40 tahun, ia menelusuri kisah keluarga kerajaan Oudh yang eksentrik, aristokrat yang telah runtuh dan tinggal di istana yang hancur di ibukota India. Itu adalah kisah yang tragis dan mencengangkan. Namun apakah itu benar?

NEW DELHI - Pada suatu sore musim semi tahun 2016, ketika saya sedang bekerja di India, saya menerima pesan telepon dari seorang pertapa yang tinggal di hutan di tengah-tengah Delhi.

Pesan itu disampaikan oleh manajer kantor kami melalui Gchat, dan itu sangat menggetarkan hati saya sehingga saya menyimpannya.

Manajer kantor: Ellen, apakah Anda pernah mencoba menghubungi keluarga kerajaan Oudh?

Ellen: Ini adalah pesan telepon terbaik yang pernah ada.

Manajer kantor: Sangat aneh! Sekretaris meninggalkan instruksi yang sangat jelas kapan Anda harus menelponnya - besok antara pukul 11 pagi sampai dengan pukul 12 siang.

Ellen: Oh Tuhan!

Saya tahu tentang keluarga kerajaan Oudh, tentu saja. Mereka adalah salah satu misteri terbesar dikota ini. Kisah mereka disampaikan antara penjual teh dan pengemudi becak dan pemilik toko di Old Delhi: Di ​​hutan, kata mereka, di sebuah istana yang terisolasi dari kota yang mengelilinginya, hiduplah seorang pangeran, seorang putri dan seorang ratu, disebutkan sebagai garis keturunan terakhir kerajaan Muslim Shiite.

Ada beberapa versi berbeda, tergantung pada siapa Anda berbicara. Beberapa orang mengatakan keluarga Oudh telah ada di sana sejak Inggris menganeksasi kerajaan mereka, pada tahun 1856, dan bahwa hutan telah tumbuh di sekeliling istana, hingga menutupinya. Beberapa mengatakan mereka adalah keluarga jin, makhluk gaib cerita rakyat Arab.

Seorang kenalan yang pernah melihat sekilas sang putri melalui lensa telefoto mengatakan rambutnya belum dipotong atau dicuci selama bertahun-tahun sehingga jatuh ke tanah di ranting-ranting.

Satu hal yang pasti: Mereka tidak ingin ditemani. Mereka tinggal di pondok perburuan abad ke-14, yang dipagari lilitan kawat duri dan dijaga anjing-anjing ganas. Perimeter ditandai dengan tanda peringatan. PENYELUNDUP AKAN DITEMBAK, tertulis disalah satu tanda peringatan.

Setiap beberapa tahun, keluarga itu setuju untuk menerima seorang jurnalis, yang selalu orang asing, untuk menceritakan keluhan mereka terhadap negara. Para jurnalis muncul dengan kisah-kisah mengerikan yang menarik, yang telah saya pelajari dengan kagum.

Pada tahun 1997, sang pangeran dan puteri mengatakan kepada The Times of London bahwa ibu mereka, dalam sikap terakhir protes terhadap pengkhianatan Inggris dan India, telah bunuh diri dengan meminum racun yang dicampur dengan berlian dan mutiara yang dihancurkan.

Saya bisa melihat mengapa kisah-kisah ini beresonansi seperti itu. Negara itu menyimpan trauma dari penipuan epik penaklukan Inggris dan kemudian pertumpahan darah setelah keluarnya Inggris, yang dikenal sebagai Pemisahan, yang memisahkan Pakistan dari India dan memicu konflik kekerasan Hindu-Muslim.

Keluarga ini yang menunjukkan kehancurannya sendiri, adalah representasi fisik dari semua yang telah diderita India.

Dari beberapa foto buram saudara kandung yang telah dipublikasikan: Mereka cantik, pucat dengan tulang pipi tinggi, tetapi hancur dengan kepedihan.

Hampir setiap hari mengantarkan anak-anakku ke sekolah, aku melaju melewati jalan sempit yang menuju ke tengah hutan, yang dikelilingi oleh pagar besi dengan ornamen. Hutannya sangat lebat sehingga tidak mungkin untuk melihat banyak dan juga dihuni oleh gerombolan monyet. Di malam hari, Anda bisa mendengar lolongan anjing liar.

Sehari setelah saya menerima pesan, saya memutar nomor telepon. Setelah beberapa dering, seseorang mengangkat telepon, dan aku mendengar suara nyaring bernada tinggi di ujung yang lain.

Bersambung ke Bagian ke-2

sumber: nytimes.com
Berbagi Kebaikan:

Subscribe to receive free email updates: