Bagaimana standard kecantikan terbentuk?

"Setiap orang memiliki keunikan dan kecantikan tersendiri", demikian ungkapan yang sering kita dengarkan. Namun, benarkah demikian? Bagaimana jika kita sebenarnya di set untuk standard kecantikan tertentu?

Gadis, sangat mempercayai mamanya yang mengatakan ia sangat cantik sampai suatu saat ia mendengar  kakak sepupunya dan teman-temannya mulai bergosip dan mengomentari teman mereka yang kurang cantik menurut mereka karena terlalu pendek, terlalu hitam, terlalu kurus dan lainnya. 

Sekembalinya ke rumah, Gadis buru-buru masuk kamar dan berdiri di depan cermin. Ia melihat bayangan didepannya sedikit kegemukan, hidungnya hampir ketutup oleh pipinya yang tembem, dan bentuk telinganya juga sedikit lebih lebar. Dia tidak cantik sama sekali, demikian kesimpulannya.

Hampir semua orang terimbas dengan standar kecantikan tertentu, warna kulit, bentuk hidung, bentuk mata, tinggi badan, ukuran pinggang dan lainnya.

Namun siapa sebenarnya yang berperan dalam pembentukan standard tersebut? 

Ukuran kecantikan sebenarnya sangat kompleks. Menurut, Bruce F. Norton, professor dibidang politik dari Universitas Amerika, bahwa"apa yang dipandang sebagai wajah cantik seringkali dipengaruhi oleh apa yang terjadi didalam masyarakat".
IMAGE: USMC ARCHIVES/WIKIMEDIA COMMONS


"Jangan menganggap standar kecantikan itu kebetulan," kata Gloria Steinem, editor salah satu majalah Ms. "Mereka mencerminkan struktur kekuasaan dalam masyarakat kita. 

Didalam perjalanan sejarah ketika persediaan makanan terbatas, hanya orang-orang berada yang mampu membeli cukup makanan dan mereka memamerkannya dengan makan lebih banyak daripada orang kebanyakan sehingga wanita gemuk dianggap cantik sementara yang kurus dianggap kurang menarik karena mewakili orang-orang miskin yang tidak cukup makan. Kulit pucat dan rambut warna terang juga dianggap cantik pada masa itu karena mereka mewakili orang berkecukupan yang tidak perlu bekerja keras.

Standard kecantikan kini berbalik namun pengaruh kekuasaan masih berlaku. Keamanan makanan menjadi issue bahwa hanya masyarakat kelas menengah keatas yang mampu membeli makanan sehat dan itulah sebabnya mereka bisa menjaga bentuk proporsianal mereka. Sementara kelas bawah hanya mampu membeli makanan yang kurang sehat sehingga mereka menjadi kelebihan berat badan.

Di hampir semua negara di Asia, kulit terang dan putih dianggap cantik sementara orang-orang Eropa-Amerika menganggap kulit coklat buatan sexy dan menarik. Keduanya adalah simbol kemapanan karena orang-orang ini memiliki cukup uang untuk cream perawatan dan juga waktu bersantai di pantai. Kelas pekerja menghabiskan waktu mereka untuk mendapatkan gaji standard dan hanya cukup untuk membeli makanan dan membayar sewa. Tak jarang kelas rendahan ini memaksa diri membeli bahan kimia pemutih murahan yang merusak kulit.

Standardnya sudah berubah tetapi hubungannya dengan kekuasaan dan kemapanan tidak pernah berubah. Operasi plastik menjadi topic hangat dimana-mana dan tentu saja harganya tidak murah. Standard kecantikan ini telah menciptakan kelas dalam masyarakat tidak hanya dalam skala kecil tetapi bahkan secara skala besar memisahkan antara negara yang makmur dengan negara miskin. 

(JS/KM)
Berbagi Kebaikan:

Subscribe to receive free email updates: